Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Reungan Pekan Biasa XVII
Selasa, 27 Juli 2021, Tahun B/I.

Dalam bacaan I (Kel. 33:7-11; 34:5b-9.28) dapat kita lihat kedekatan relasi Allah dengan Musa, dan juga sebenarnya dengan umat-Nya. Dengan Musa, dinyatakan antara lain “TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya“ (Kel 33:11). Dengan umat-Nya dikatakan “Setiap orang yang mencari TUHAN, keluarlah ia pergi ke Kemah Pertemuan yang di luar perkemahan“ (Kel 33:7). Dalam relasi itu Allah selalu mengingatkan umat-Nya agar tetap setia memegang janji yang sudah dibuat dan Allah mendengarkan doa Musa (Kel 34: 5-b.28)

Dalam Injil (Mat  13:36-43) Yesus menjelaskan makna dari perumpamaan lalang di antara gandum. Intinya Yesus menegaskan bahwa “yang ditaburkan adalah benih yang terpilih, berkualitas, dan akan memberikan hasil yang memuaskan”. Tetapi “musuh sang penabur mencuri kesempatan disaat semua orang tidur untuk menaburkan benih lalang di antara benih yang baik itu”. Dari penjelasan Yesus dapat kita tarok kesimpulan bahwa Iblis memang sengaja mengacaukan bahkan menggagalkan rencana Allah. Iblis memilih benih lalang, karena pada awal pertumbuhannya sangat mirip dengan gandum,sehingga sangat sulit dibedakan. Namun yang pasti adalah gandum tetap tumbuh sebagai gandum dan lalang tumbuh sebagai lalang.Keduanya akan tampak jelas berbeda ketika berbuah. Berdasar buahnya, pada saat dituai orang akan mudah mengenali mana lalang dan mana gandum. Itulah sebabnya sang penabur melarang hamba-hambanya mencabut lalang pada saat pertumbuhan, karena kemungkinan besar gandumnya pun ikut tercabut.

Bagaimana dengan kita?

Kita sebagai orang Katolik yang telah menerima Sakramen Baptis harus mampu menjadi saluran berkat Allah bagi sesama. Untuk itu, sama seperti Musa yang memiliki kedekatan secara pribadi dengan Tuhan menjadi pembawa pesan dan nasihat dari Allah kepada bangsa Israel dan Musa juga menjadi pembawa segala doa-doa dan permohonan bangsa Israel kepada Allah.

Kita sebagai orang Katolik yang telah menerima Sakramen Baptis harus mampu menjadi gandum yang tetap bertumbuh dan menghasilkan buah di antara lalang yang ada di sekitar kita. Hal itu hanya dimungkinkan jika kita setia tinggal di dalam Yesus. Karena jika kita setia tinggal dalam Yesus maka kita akan dirawat, dibersihkan agar semakin banyak berbuah (bdk Yoh 15:1-8). Kesetiaan hidup di dalam Yesus diukur (dilihat orang) dari pikiran, perkataan, sikap dan perbuatan kita apakah semakin serupa dengan Yesus.

Alangkah berharga dan mulianya hidup kita ketika kita mampu menjadi saluran berkat dari Tuhan kepada sesama. Alangkah bahagianya jika gandum kita tetap menghasilkan buah limpah walau dihadang oleh lalang.

Apakah kita sanggup? Bagaimana mungkin seseorang bisa berkata bahwa ia percaya dalam Kristus bila ia tidak melakukan apa yang Kristus perintahkan kepadanya.

Semoga. Tuhan memberkati. (*)

Renungan oleh:
Andi Kris


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •