Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PANGKALPINANG, KATEDRALPANGKALPINANG.COM – Pastor Fransiskus Xaverius Hendrawinata Zen Pr., imam senior Keuskupan Pangkalpinang yang telah mengabdikan diri sebagai imam selama 46 tahun untuk keuskupan ini, Sabtu (31 Juli 2021) dini hari menghadap Bapa di surga.

RD FX Hendrawinata saat berada di ruang kerjanya, Perpustakaan Keuskupan Pangkalpinang. (KATEDRALPGK/FENNIE)

Imam diosesan kedua Keuskupan Pangkalpinang (setelah Pastor Boen/ Mario John Boen/ Mario Johanes Boen Thiam Kiat-red) adalah mantan Vikaris Jenderal (Vikjend) Keuskupan Pangkalpinang era Mgr Hilarius Moa Nurak SVD yang sempat mendapatkan kepercayaan sebagai “pendamping uskup” selama 20 tahun (tahun 1995 hingga 2015).

RD FX Hendrawinata meminta diabadikan sesaat sebelum Perayaan Ekaristi HUT Imamat ke-25 Mgr Adrianus Sunarko OFM tahun 2020 lalu. (KATEDRALPGK/FENNIE)

Menjalani kehidupan fana selama 72 tahun 8 hari, pemilik nama Tionghoa Tjen Hian Hauw ini sempat menjadi Pastor Paroki Katedral Santo Yosef Pangkalpinang selama tujuh tahun (tahun 1993 hingga 2000). Kepada Katedralpangkalpinang.com, beberapa umat “senior” memberi kesaksian bagaimana seorang Pastor Hendra di zamannya memainkan peran.

“Saat Pastor Hendra menjadi Pastor Paroki Katedral, ada yang namanya Arisan Lestari. Arisan tersebut adalah gerakan yang melibatkan seluruh umat untuk mendukung keuangan keuskupan dan paroki menggantikan ide pembentukan dana abadi, hingga kemudian melahirkan beberapa unit usaha di bawah naungan Keuskupan Pangkalpinang,” kenang  Ignatius Sumardi, katekis pertama keuskupan ini beberapa waktu lalu.

Terpisah, mantan Ketua DPP Paroki Katedral St. Yosef Pangkalpinang, FX Soekarno bertutur bagaimana di zamannya peran serta pengusaha dalam membangun gereja sangat terasa.”Saat Pastor Hendra menjadi parokus, para pengusaha banyak terlibat. Saat itu terasa sekali bantuan mereka untuk paroki, termasuk di antaranya pembangunan rumah walet kita,” tuturnya baru-baru ini.

RD FX Hendrawinata (depan kanan) berfoto bersama Mgr Hilarius Moa Nurak SVD, pengurus DPP dan para pengusaha. (REPRO/DOK PRIBADI FX SUKARNO)

Pastor Hendra yang memiliki motto tahbisan imam, “Kesukaanku menjalankan kehendak-Mu, ya Tuhanku” (Mz. 40,9) juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Ia juga rajin mengunjungi umat, cepat sekali membantu jika ada yang meminta tolong dan dekat dengan banyak umat.
“Kesan saya tentang beliau adalah sosok yang rendah hati dan selalu siap membantu kapan saja bila kita meminta bantuan. Beliau memiliki hubungan-hubungan mendalam dengan umat yang dilayaninya, tempat-tempat di mana beliau pernah berkarya, dan komunitas yang ia temui dalam peziarahannya,” demikian kesaksian Romo Yustin, Parokus Katedral St. Yosef Pangkalpinang saat ini tatkala berkomentar tentang sosok seorang Pastor Hendra saat perayaan ulang tahun ke-71 imam senior tersebut.

‘Buku Sejarah yang Hidup’
Sangat konsen terhadap dunia pewartaan, khususnya di lingkungan Keuskupan Pangkalpinang, itu pula yang melekat dari pribadi seorang Pastor Hendra.
“Kalau bertanya tentang perjalanan sejarah gereja Keuskupan Pangkalpinang, Romo Hendra adalah ‘buku sejarah yang hidup’. Beliau  tahu persis hal ini karena di satu pihak beliau juga adalah bagian dari sejarah perjalanan gereja di keuskupan ini, juga tentu dengan latar belakang bidang ilmu pengetahuan yang dimilikinya dan ketekunan serta keseriusan beliau dalam mengumpulkan data dari berbagai sumber-sumber (studi perpustakaan: buku-buku, literatur-literatur atau dokumen gereja) yang berbicara tentang gereja Keuskupan Pangkalpinang,” imbuh Romo Yustin.

Putra sulung pasangan Yohanes Fauzi Zen (Tjen Jung Fa) dengan Lusia Inawati (Tjia Jauw In) memiliki dua adik perempuan Angela Meity Suryanti (Tjen Hian Mei) dan Yosephine Rita Kurniawati. Ia harus pergi menuju kehidupan kekal karena penyakit kelainan fungsi hati yang dideritanya beberapa waktu terakhir. Pastor Hendra mulai terbaring sejak pertengahan April 2021. Sempat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta pada akhir April hingga pertengahan Mei 2021, Pastor Hendra meminta pulang dan memilih beristirahat di keuskupan. Beberapa kali keluar masuk rumah sakit swasta di Kota Pangkalpinang, Selasa (27 Juli 2021) Pastor Hendra kembali harus menjalani perawatan intensif di sebuah rumah sakit swasta di Kota Pangkalpinang karena kesadaran yang kian menurun.

RD FX Hendrawinata meski dalam kondisi sakit masih membantu staf keuskupan mencari data di perpustakaan, 28 Mei 2021. (KATEDRALPGK/FENNIE)

Adik kandung Pastor Hendra sengaja datang dari Palembang untuk menjenguk sang kakak, 28 Mei 2021. (KATEDRALPGK/FENNIE)

 

“Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.” Begitulah hakikat kehidupan. Ada saatnya datang dan ada waktunya pergi. Selamat jalan ‘Buku Sejarah yang Hidup’. Terimakasih telah menjadi imam untuk Keuskupan Pangkalpinang, dan terlebih terimakasih atas dedikasinya untuk karya pewartaan hingga hembusan nafas terakhir. Berbahagia bersama para Kudus di surga..(katedralpgk)

Berikut dokumentasi semasa hidup Pastor Hendra yang sempat diabadikan Katedralpangkalpinang.com:

Pastor Hendra memimpin Perayaan Ekaristi Kamis Putih,, 01 April 2021 dan tampak kurang sehat. (KATEDRALPGK/SEPTIANTO)

Pastor Hendra berfoto bersama keponakan Pastor Boen (RD Mario John Boen), Boen Mau San dalam sebuah acara di rumah kerabat di Jakarta beberapa waktu lalu (DOK. PRIBADI BOEN MAU SAN)

Menurut kesaksian beberapa umat, Pastor Hendra hampir setiap sore mendatangi makam orang tuanya saat dirinya masih sehat. (KATEDRALPANGKAPINANG/SEPTIANTO)

Meski sedang sakit, Pastor Hendra tetap bersemangat menghadiri peletakan batu pertama Kapel di Seminari Menengah Mario John Boen milik Keuskupan Pangkalpinang, 25 April 2021. (KATEDRALPGK/FENNIE)

Penulis : caroline_fy
Editor : caroline_fy

 


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •