Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Kamis, 05 Agustus 2021
Pekan Biasa XVIII

Bacaan:
Bilangan Bab 20 : ayat 1 – ayat 13
Mazmur 95:1-2.6-9
Matius Bab 16 : ayat 13 – ayat 23

Ketika Yesus datang ke dunia, tampil di kancah pelayan-Nya, dengan kuasa-kuasa yang ajaib, tidak serta merta orang menyambut Dia sebagai Tuhan. Banyak orang mengangap Dia seperti manusia biasa. Walaupun Yesus sering melakukan mujizat-mujizat tetapi mereka memandang-Nya “tidak lebih” dari nabi dan imam-imam yang mereka tahu.

Yesus ingin membuktikan siapa Dia dihadapan murid-murid-Nya.Jawaban para murid seperti khalayak ramai, ada yang mengatakan Yohanes pembabtis, Elia, Yeremia atau salah satu dari nabi yang mereka tahu. Yesus belum puas kalau murid-murid mengenal dirinya hanya sebatas pengenalan berdasarkan apa kata orang, tetapi pengakuan yang lahir dari pengenalan pribadi akan Yesus, sehingga Dia bertanya: “Tetapi katamu siapakah aku ini ? Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias. Anak Allah yang hidup.Pengakuan yang sangat berani dan akurat. Yesus memang adalah Mesias, Anak Allah.

Pengenalan akan Yesus sebagai Mesias tidak cukup hanya melalui apa yang dilihat oleh mata dan apa yang di dengar oleh telinga tetapi harus ada peran Roh Kudus Pengenalan yang benar bahwa Yesus adalah Mesias, akan menjadi pondasi yang kuat bagi iman setiap orang yang percaya. Pengenalan yang benar bahwa Yesus adalah Mesias akan membawa sukacita dan keselamatan.

Pengenalan sejati akan Allah tidak tergantung pada seberapa banyak waktu yang dikurbankan untuk pekerjaan Kerajaan Surga. Yang terpenting dari semuanya adalah seberapa dalam kita memahami Allah dan seberapa dekat hidup kita bersatu dengan-Nya. Bagaimana pemahaman tentang Allah ini sungguh kita perjuangkan hidup kita? Kita bisa belajar dari bacaan pertama. Bangsa Israel menggerutu karena tidak mendapatkan air. Bahkan Musa dan Harun pun menjadi tidak sabar dan tidak percaya kepada Allah. Karena ketidakpercayaan itu, Musa dan Harun dihukum tidak diperkenankan masuk ke Tanah Perjanjian.

Kita sering bersikap seperti bangsa Israel, juga seperti Musa dan Harun yang tidak percaya akan kuasa Allah. Pengenalan akan Allah harus dilandasi oleh kepercayaan yang utuh, niscaya kita akan beroleh keselamatan. (*)

Renungan oleh:
Shito Kadari


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •