Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Sabtu dalam pekan Biasa XVIII, 07 Agustus 2021, Tahun B/I.

Perngatan Fakuktatif St. Situs II, Paus dkk. Martir, dan St. Kayetanus, Imam.

Dalam bacaan I (Ul 6:4-13) Musa menekankan satu pengajaran penting kepada bangsa Israel sebelum mereka memasuki tanah Mesir. “Dengarlah, hai orang Israel: … Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. … haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (ay. 4-7). Ada dua pesan yang disampaikan, yaitu pertama, agar para orang Israel mengasihi Allah dengan segenap hati dan kedua, agar para orang tua mengajarkan anak-anak mereka untuk mengasihi Allah.

Injil (Mat 17:14-20)  mengisahkan Yesus menghadapi seorang bapa keluarga yang mohon agar Yesus membantu membebaskan anaknya yang kerasukan roh jahat. Bapa itu sudah meminta kepada para murid. Tragisnya para murid tidak mampu mengusir roh jahat itu. Ketika melihat Yesus berhasil mengusir setan itu, para murid bertanya mengapa kami tidak bisa?. Yesus menilai kegagalan para murid-Nya karena *kekurangan iman* (ay. 17 dan 20). Karena itu Yesus mengingatkan berapa lama lagi Aku harus tinggal bersama kamu?dan berapa lama Aku harus sabar terhadap kamu?.Kenyataan para murid sudah tinggal cukup lama bersama Yesus berarti pasti sudah melihat dan mendengarkan ajaran Yesus, sudah mendapatkan segala yang mereka perlukan. Ternyata para murid seolah tidak mendapat sesuatu. Kuncinya walau tinggal bersama Yesus, tetapi para murid masih hidup dalam ego mereka msing-masing. Padahal syarat yang diberikan Yesus *harus meninggalkan egonya atau menyangkal diri (Mat 16:24). Para murid “masih lebih mengasihi diri dan milik kepunyaan mereka”, padahal syarat ikut Yesus “harus mengasihi Yesus lebih dari segalanya” (Mat 10:37).

Bagaimana dengan kita?

Bacaan I (Musa), dan Injil (Yesus)mengingatkan kita unuk hidup dalam kasih dan kasih yang utama aalah mengasihi Allah dengan segenap hati (Matb22:37). Para murid telah gagal mencicipi kasih itu sehingga tidak mampu mengusir setan karena mereka masih hidup dalam ego mereka.

Sudah berapa lama kita menjadi Katolik? Merupakan pertanyaan Yesus “sudah berapa lama Aku tinggal bersamamu?” Sebab semenjak menjadi Katolik, kita diminta oleh Yesus untuk hidup dalam kasih dan mewartakan kasih. Karena hanya dengan kasih kita dapat membuat mukjijat. “Mengasihi musuh” (Mat 5:54), mendokan orang yang menganiaya kita (Mat 5:44). Jika kta mau mengubah musuh menjadi kawan, hanya dengan kasih. Maka kalau MAU PUNYA IMAN SEBESAR BIJI SESAWI YANG BISA MEMINDAHKAN GUNUNG (MASALAH SEBESAR APAPUN) TINGGALKAN EGO DAN HIDUPLAH DALAM KASIH.

Semoga. Tuhan memberkati. (*)

Renungan oleh:
Andi Kris


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •