Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Rabu, 11 Agustus 2021
Pekan Biasa ke-XIX
Ul 34:1-12: Mzm 66:1-3a.5.8.16-17: Mat 18:15-20

Dalam bacaan suci hari ini, Tuhan Yesus, mengajar kita bagaimana mengoreksi sesama kita dengan kemurnian hati. Yesus memberikan Langkah-langkah konkret bagaimana kita haru mengoreksi sesama sesama saudara kita.  Pertama: bila ada seorang saudara yang melakukan sebuah kesalahan, carilah waktu yang tepat, berbicaralah dengan dia dari hati ke hati atau berbicaralah dengan empat mata. Kalau dia mendengarkan nasihatmu maka kita berhasil menyelamatkannya. Tetapi bila, ia tidak mau mendengarkan teguran kita dan berubah maka Anda masih memiliki kesempatan kedua. Pada kesempatan kedua ini, anda boleh memanggil satu atau dua orang lagi untuk mengoreksinya. Kesaksian dua atau tiga orang memiliki kekuatan tersendiri. Ketiga: Apabila kesempatan mengoreksinya ini juga gagal maka ada langkah lain yang diambil adalah, menghadirkan dia di tengah-tengah keluarga atau jemaat dan semua orang berkesempatan untuk mengoreksinya. Mungkin di tengah-tengah jemaat ia dapat berubah. Keempat, Apabila saudara ini sudah dihadirkan di tengah jemaat dan masih tidak mau berubah maka ia boleh dipandang sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Melalui pengajaran ini, Tuhan Yesus ingin menyampaikan beberapa hal kepada kita sebagai pengikut-NYA.

Pertama, Dipanggil untuk Kemurnian Niat: TUHAN YESUS selalu meminta kita untuk melakukan apa yang DIa lakukan dan meniru Dia, yakni memberi hidup: “Aku datang agar mereka memiliki hidup, dan memilikinya lebih berlimpah” (Yohanes 10:10). Dia tahu bahwa perjalanan kita menuju hidup kekal akan menjadi tidak sempurna, karena penderitaan dan dosa yang kita lakuan, dan juga apa yang orang lain lakukan terhadap kita. Tidak ada penderitaan atau luka yang tersembunyi darin-Nya. Namun, itu adalah hidup, bukan kematian, yang dia inginkan. Dalam Injil hari ini, Sang Guru Sejati, Yesus Kristus, mengajar kita bagaimana mengoreksi sesama kita dengan pikiran yang positif dan kemurnian niat dengan memberikan langkah-langkah konkret untuk mengoreksi sesama saudara kita: Dengan cara ini sebenarnya Yesus sedang mengundang kita untuk mengambil tatapan-NYA dan hati-NYA menjadi tatapan dan hati kita juga: Hanya dengan begitu kita bisa pergi ke saudara kita yang telah menyakiti kita, dan dengan pengampunan, cinta, kesabaran, dan kehati-hatian berusaha untuk membawanya kembali ke cahaya. Dengan melakukan hal seperti itu selalu membawa kita kembali ke hati Kristus dan Gereja-Nya karena Dia adalah Terang: Dia adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yohanes 14:6)

Kedua, Melihat seperti Yesus melihat kita:  melalui koreksio persaudaraan, kita membantu orang lain untuk menghayati kebenaran dalam cinta dan membawa dia untuk menyadari kesalahannya yang mungkin menyebabkan kerugian bagi orang dirinya sendiri atau orang lain. Sumbernya  adalah pada tatapan Kristus sendiri terhadap kita anak-anak-Nya: tatapan tanpa keegoisan, tanpa egoisme, tetapi tatapan cinta tulus yang dimulai dalam kebenaran dan menginginkan kebaikan orang lain. Ini adalah praktik yang harus terus-menerus mendorong kita untuk hidup dalam ketulusan di hadapan Tuhan karena hanya cahaya-Nya yang sungguh menerangi hati kita dan menyucikan niat kita untuk kebaikan orang lain.

Ketiga, Kekuatan Persekutuan:  Tampak bahwa ada rahmat khusus yang tersembunyi dalam persekutuan—yakni dalam Kerjasama sama demi kebaikan orang lain dan berdoa bersama. Yesus menyoroti kedua aspek ini dalam kata-katanya kepada para rasul-Nya. Semoga penegasan Yesus ini memperkuat iman kita pada kekuatan doa syafaat dan karunia besar yang telah Dia berikan kepada kita melalui Gereja dan komunitas dan keluarga kita sendiri. Yesus ingin agar diri-Nya hadir di dunia melalui kita dalam komunitas kita. Seperti yang dikatakannya, “Karena di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:20).

Mari kita berdoa:  Tuhan Yesus Kristus, berilah saya rahmat untuk melihat orang lain dan dunia di sekitar saya, dan diri saya sendiri dengan mata-Mu. Tarik aku dekat dengan-Mu karena Engkau adalah cahaya yang menyatakan kebenaran dari semua hal. Semoga saya hidup dan berjalan hari ini dalam terang kebenaran dan kasih-Mu. 

Aksi nyata yang bisa kita lakukan: Tuhan, hari ini dengan rahmat-Mu aku akan membuat langkah nyata untuk mencoba melihat seseorang yang telah menyakitiku dengan mata cinta-Mu. (*)

Renungan oleh:
RD Yustin


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •