Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KATEDRALPANGKALPINANG.COM – Frater Shimplisius Lowam akan menerima tahbisan Diakon, Minggu 15 Agustus 2021 pukul 10.00 pagi di Gereja Katedral Santo Yosef, Pangkalpinang.

Sudah selama satu bulan Fr Shimplisius menjalani masa persiapan diakonat, dalam masa itu Frater berusia 30 tahun ini belajar cara berpastoral yang baik untuk melayani umat.

Persiapan tahbisan Diakon selama satu bulan diakhiri dengan retret selama tiga hari di Seminari Mario Jhon Boen. Dalam retret, RD Stanis menekankan bagaimana menjadi seorang pelayan yang rendah hati dalam melayani umat Allah.

“Perasaan saya tentu sangat bersuka cita. Bersuka cita karena pendampingan Tuhan, bimbingan Tuhan, campur tangan Tuhan selama proses formasi di seminari menengah maupun sampai seminari tinggi akhirnya saya ditahbiskan menjadi Diakon. Semua itu karena Tuhan. Saya sebagai alat-Nya hanya menjalani dan mengikuti apa yang menjadi kehendak-Nya,” ungkap Fr Shimplisius Lowam saat diwawancara khusus katedralpangkalpinang.com

Terhitung perjalanan Fr Shimplisius menjadi Frater sudah 9 tahun sejak masuk Kelas Perisapan Atas (KPA) tahun 2012 hingga menyelesaikan studi calon imam di Seminari Tinggi St. Petrus tahun 2021.

Panggilannya untuk menjadi pelayan umat dikatakannya menjadi misteri sekaligus suatu anugerah.

“Siapapun itu, tidak akan pernah tau dan mengerti tentang misteri panggilan yang berasal dari Tuhan. Saya pun demikian halnya, tidak pernah terpikirkan bahwa Tuhan memanggil dan menganugerahkan panggilan itu kepada saya untuk menjadi pelayan di kebun anggur-Nya. Tuhan pun memanggil setiap pribadi untuk menjadi pelayannya dengan cara yang berbeda-beda,” tuturnya kelahiran Flores ini.

Frater Shimplisius Lowam mengurai kisahnya sejak kecil kagum melihat seorang Imam yang memimpin Perayaan Ekaristi.

Sehingga pernah terbersit sewaktu SD kelas VI dirinya ikut tes masuk seminari, namun tidak terwujud.

Selesai mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), Frater Shimplisius memutuskan merantau mencari pekerjaan di Batam sebagai Satpam di salah satu perusahaan. Hingga pada tahun kedua dirinya memutuskan untuk berhenti bekerja.

Niat Fr Shimplisius ingin masuk seminari muncul kembali. Terlebih atas sebuah peristiwa di paroki Maria Bunda Pembantu Abadi Batam semakin menguatkannya.

Saat itu ada tahbisan Imam Pastor Fransiskus Maing, dirinya kian memantapkan hati untuk masuk Seminari menengah Aektolang Keuskupan Sibolga.

Selama satu tahun menjalani proses pembinaan di seminari. Tamat dari KPA, Fr Shimplisius memutuskan untuk memilih menjadi calon imam Keuskupan Pangkalpinang

“Sangat sederhana alasan (pilih Keuskupan Pangkalpinang). Pertama karena kota tujuan saya merantau adalah Batam, di mana Batam adalah wilayah dari Keuskupan Pangkalpinang. Kedua, ketika di Batam dalam keseharian, misalnya setiap hari Minggu, saya hanya berjumpa dengan imam-imam Diosesan Pangkalpinang dan saya hanya mengenal mereka. Alasan inilah yang memikat hati saya untuk memilih menjadi calon imam Keuskupan Pangkalpinang,” ungkapnya.

Suka Duka Perjalanan Jadi Frater

Ada berbagai aneka pengalaman suka dan duka yang mewarnai perjalanan hidup Fr Shimplisius. Jika diteropong dari sisi sukanya, identitas diri seorang frater menjadi suatu kebanggan dan sukacita baginya.

Kesukaan yang lain banyak berjumpa dengan teman-teman yang berbeda suku, bahasa dan budaya. Dengan latar belakang yang berbeda itu, Fr Shimplisius diperkaya dengan kebiasaan dan pengetahuan yang baru.

Namun dibalik suka, ada juga pengalaman duka. Ia pernah dilanda bimbang dan ragu ketika teman-teman seangkatan dari Keuskupan Pangkalpinang mundur dari jalan panggilan.

Di awal masuk Tahun Orientasi Rohani, Fr Shimplisius berjumpa enam orang.

“Dari keenam orang ini yang masih setia menjalani panggilan Tuhan sampai saat ini tinggal saya seorang diri. Sebagai seorang sahabat ketika melihat kelima teman meninggalkan panggilan, rasanya dukacita yang mendalam untuk saya. Selain itu, ritme hidup di seminari yang sungguh-sungguh harus saya hidupi, yakni ada empat aspek bina: ada kerohanian, kepribadian, intelektual dan pastoral,” katanya.

Keempat aspek ini terkadang terseok-seok untuk dijalani. Memang tidaklah mudah, harus sungguh-sungguh berjuang dan bekerja keras untuk menyeimbangkan keempat aspek tersebut.

“Namun saya percaya bahwa proses itu adalah cara Tuhan menyiapkan dan membentuk hidup saya. Proses itu adalah suatu fase persiapan diri yang dikerjakan Tuhan untuk hidup saya. Saya bersyukur pada Tuhan, karena pendampingannya akhirnya saya mampu menjalaninya sampai selesai,” tutupnya.

Biodata

Nama                                    : Fr. Shimplisius Lowam

Panggilan                             : Fr. Shimply

TTL                                       : Flores, Marilewa 02 Maret 1991

Asal Paroki                           : St. Hubertus-Wekaseko-Nagekeo

Asal Keuskupan                   : Keuskupan Agung Ende

Moto                                     : Katakanlah Kepada Allah: Betapa dahsyatnya Pekerjaan-Mu(Mzm. 66:3).

Riwayat Pendidikan

SD                                         : SDI Raterunu-Kab. Nagekeo, Kec. Wolowae

SMPN                                   : SMPN 1 Nangapenda, Kab. Ende, Kec. Nangapenda

SMAN                                   : SMAN 2 Ende

SMAN                                   : SMAN 1 Wolowae

Seminari Menengah/ KPA St. Petrus Aektolang-Sibolga

TOR                                        : St. Markus-Pematangsiantar

Seminari Tinggti St. Petrus-Pematangsiantar

Universitas Katolik St. Thomas-Fakultas Filsafat-Pematangsiantar

TOP                                        : Paroki Fransiksus Xaverius-Koba

Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi St. Yohanes-Pematangsiantar. (katedralpgk)

Penulis : Dhina

 


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •