Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Rabu dalam Pekan Biasa XX, 18 Agustus 2021, Tahun B/I.

Dalam bacaan I (Hak 9:6-15) dikisahkan setelah Yerubaal atau Gideon (salah satu hakim Israel kuno yang terkenal) meninggal, salah satu dari 70 anak Yerubaal, Abimelek, membujuk orang-orang Sikhem untuk mendukung dirinya menjadi pemimpin pengganti Yerubaal. Orang-orang kota Sikhem memberinya uang 70 keping perak dari kuil Baal-Berit, dewa sembahan mereka sebagai tanda setuju. Dengan itu Abimelekh mengumpulkan “petualang-petualang dan orang-orang nekat” yang menjadi pengikutnya untuk membunuhi 70 orang saudaranya, anak-anak Yerubaal. Hanya Yotam, anak bungsu Yerubaal, yang selamat karena bersembunyi (ay. 1-5). Warga Sikhem pun segera melantik Abimelekh menjadi raja(ay.6). Mendengar itu, Yotam pergi ke gunung Gerizim, berdiri di atasnya, lalu menyampaikan sebuah perumpamaan yang bersifat nubuat, dikenal sebagai “Perumpamaan Yotam” atau “Perumpamaan tentang pohon-pohon” (ay. 6-15). Di akhir nubuatnya Yotam menyampaikan pilihan kepada orang-orang Sikhem: “jika kamu berlaku setia dan tulus ikhlas dengan membuat Abimelekh menjadi raja, dan jika kamu berbuat yang baik kepada Yerubaal dan kepada keturunannya dan jika kamu membalaskan kepadanya seimbang dengan jasanya, maka silakanlah kamu bersukacita atas Abimelekh dan silakanlah ia bersukacita atas kamu.Tetapi “jika tidak demikian, maka biarlah api keluar daripada Abimelekh dan memakan habis warga kota Sikhem dan juga Bet-Milo, dan biarlah api keluar daripada warga kota Sikhem dan juga dari Bet-Milo dan memakan habis Abimelekh.” (ay. 16-20).

Dalam Injil (Mat 20:1-16a)  Yesus menyampaikan perumpaan tentang pekerja. Seorang pemilik kebun anggur keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Lima kali ia keluar untuk mendapatkan pekerja yaitu pagi-pagi benar (sekitar jam 6 pagi), jam 9, jam 12, jam 3 sore dan jam 5 sore. Hanya dengan pekerja yang ia jumpai paling pagi diadakan kesepakatan mengenai upah kerja: sedinar sehari. Sedang dengan pekerja yang lain tidak diadakan kesepakatan gaji. Ketika pada akhir jam kerja diadakan pembayaran upah, ternyata semua pekerjamendaat upah yang sama besar 1 dinar. Pekeja yang masuk pagi-pagi benar protes dan memandang tindakan tuan pemilik kebun anggur itu tidak adil. Pemilik kebun anggur menanggapi protes para pekerja “Aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (ay. 13-15)

Bagaimana dengan Kita?

Cara berpikir Allah memang tidak sama dengan cara berpikir kita (lih. Yes 55:8-9). Kemaharahiman Allah tercurah untuk semua umat manusia tanpa pandang berdosa atau tidak, tidak memandang agama dan kepercayaan, tidak pandang status atau jasa yang telah diberikan. Sebaliknya kita selalu berpikir “do ut des”, yaitu memberikan sesuatu mengharapkan ada imbalan. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, yaitu Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Rom 5:8). Jadi, perbuatan baik yang kita lakukan adalah tanda syukur kita bukan semacam upeti untuk keselamatan kita.

Bacaan hari ini mengajak kita untuk memahami betapa luas, lebar, dalam dan tingginya kemurahan hati Allah (bdk. Ef 3:18). Kerajaan Allah itu ibarat keluarga yang penuh kasih. Sekalipun anak-anak berbeda dalam bakat, disiplin dan kerajinan, namun kasih orang tua tetap sama untuk mereka. Bukankah kita  seharusnya bangga pada mereka. Karena itu JANGAN IRI TETAPI BERSYUKURLAH KARENA ALLAH MAHA RAHIM.

Semoga. Tuhan memberkati. (*)

Renungan oleh : Andi Kris


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •