Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hari Minggu Biasa Pekan ke-XXI TAHUN B
Yos 24:1-2a.15-17.18b: Mzm 34:2-3.16-17.18-19.20-21.22-23:
Ef 5:21-32:Yoh 6:60-69

Dalam budaya kita, kesuksesan seringkali menjadi permainan angka/jumlah. Sebuah program televisi yang sukses adalah salah satu yang memiliki penonton yang sangat besar. Jika jumlah menonton menurun, program dalam masalah. Demokrasi didasarkan pada suara terbanyak. Kandidat dengan suara terbanyak akan dipilih. Setiap partai politik ingin memaksimalkan suaranya pada hari pemilihan. Dalam segala hal, angka penting dalam masyarakat kita. Sekolah dengan jumlah lulusan terbesar yang melanjutkan ke Universitas dianggap sebagai sekolah yang lebih baik. Jika beberapa acara yang diselenggarakan hanya menarik jumlah/angka kecil itu dianggap gagal.

Injil menunjukkan bahwa Yesus tidak terlalu peduli dengan angka. Empat Minggu terakhir ini,  kita merenungkan dari Injil Yohanes bab 6, di mana Yesus berbicara tentang diri-Nya sebagai Roti Hidup dan yang makan Tubuh dan minum Darah-Nya akan memiliki kehidupan kekal. Dalam Injil hari ini beberapa murid Yesus sendiri mengungkapkan kegelisahan mereka dengan kata-kata ini. Perkataan ini keras! Siapakah yang sanggup mendengarkannya dan menerimanya?‘ Yesus dalam bacaan ini, digambarkan sangat sadar ketika beberapa pengikut-Nya mengeluh. Namun, Dia tidak berusaha melunakkan ajaran-Nya untuk mempertahankan jumlah mereka yang mengikuti DIA. Sebaliknya, Dia bersikeras dengan perkataan yang telah Dia ucapkan, semua kata-kata-Nya atau Sabda-NYA adalah Roh dan kehidupan. Akibatnya, Injil memberi tahu kita bahwa ‘banyak murid meninggalkan Dia”. Yesus, tiba-tiba kehilangan banyak pengikutNya. Dari sudut pandang manusiawi kita, mungkin Yesus kurang berhasil., Yesus bahkan menatap ke duabelas rasul, kelompok inti-Nya, dan bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu tidak mau pergi juga?’

Yesus siap untuk menderita sengsara daripada berkompromi dengan ajaran yang telah Dia berikan. Tampaknya angka tidak penting bagi Yesus. Yang penting baginya adalah mewartakan kebenaran sebagaimana Dia telah mendengarnya dari Allah Bapa-Nya. Pada kesempatan ini Yesus menantang kedua belas murid-NYA. Dan Petrus, tampil sebagai juru bicara mereka, menangkap momen itu untuk menyatakan kesetiaan mereka kepada Yesus, ‘Tuhan, kepada siapa kami akan pergi? Engkau adalah Sabda hidup yang kekal. Kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah. ’ Yesus akan terus kehilangan bahkan beberapa dari Dua belas murid. Pada saat sengsara-Nya Yudas mengkhianati-Nya dan Petrus menyangkal-Nya. Jika kesuksesan diukur dengan angka, maka pada akhir kehidupan duniawi-Nya, Yesus gagal total.  Apa yang dilakukan oleh Yesus kepada para murid-NYA untuk memilih mengikuti Dia atau pergi meninggalkan DIA, itulah yang juga dilakukan oleh Yosua kepada umat Israel pada waktu itu, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Pertama: dimana. Yosua meminta mereka untuk memilih beribadat kepada Tuhan atau kepada dewa-dewi nenek moyang mereka?  Dan bangsa Israel memilih untuk tetap beribadah kepada Tuhan Allah yang telah menuntun mereka dari tanah mesir dari rumah perbudakan, dan melakukan banyak mujizat yang besar sepanjang jalan yang ditempuuh menuju tanah terjanji. Seluruh hidup Yosus dan keluarga tetap mengabdi kepada Allah

Demikian juga seluruh kehidupan Yesus menunjukkan bahwa nilai sesuatu tidak berhubungan dengan jumlah orang yang mendukung-Nya. Popularitas tidak selalu menunjukkan di mana kebenaran dapat ditemukan. Kita dapat tergoda untuk berpikir bahwa jika banyak orang menolak cara pandang kita, maka itu pasti salah. Angka bukanlah segalanya. Kita mengikuti Yesus bukan karena Dia popular tetapi karena, dalam kata-kata Petrus dalam Injil, kita percaya bahwa Sabda-NYA adalah Sabda hidup yang kekal, atau dalam bahasa Yesus sendiri dalam bacaan yang sama, kita percaya dan tahu bahwa Yesus adalah Yang kudus dari Allah dan dan kata-kata-NYA adalah roh dan hidup. Kita akan menemukan beberapa ajaran-Nya yang sangat menantang dan mungkin kita juga akan berkata: ‘Perkataan ini keras. Siapakah yang sanggup menerimanya.?’ Seperti beberapa ajaran-NYA: dalam Khotbah di Bukit, untuk mengasihi musuh kita, untuk berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Atau kita merasa kasihan kepada anak sulung dalam perumpamaan tentang Anak yang Hilang dan juga kepada orang-orang yang bekerja sepanjang hari dan yang mendapat upah yang sama dengan mereka yang bekerja selama satu jam terakhir dalam perumpamaan tentang Pekerja di Kebun Anggur.

Ajaran dan kehidupan Yesus akan selalu menantang kita  Bahkan mungkin pada saat-saat tertentu kita ingin menjauh dariNya. Maka, sangat penting bagi kita untuk terus memperbarui tanggapan kita terhadap undangan Tuhan. Dan Ekaristi adalah moment penting bagi kita untuk berkomitmen lagi pada visi Tuhan bagi hidup kita; dan menjadikan kata-kata Petrus menjadi kata-kata milik kita masing-masing: ‘Tuhan, kepada siapa kami akan pergi? Sabda-MU adalah kehidupan kekal.’ (*)

Renungan oleh : RD Yustin


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •