Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hari Senin, Pekan Biasa ke- XXIV
1Tim 2:1-8: Mzm 28: 2.7.8-9 :Luk 7:1-1

Injil  hari ini mengisahkan bahwa setelah mengakhiri pengajaran-NYa kepada orang banyak, Yesus masuk ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai hamba yang sedang sakit keras dan hampir mata. Mendengar  itu ia menyuruh beberapa tua-tua Yahudi untuk meminta kepada Yesus agar datang dan menyembuhkan hamba yang sakit itu. Para tetua Yahudi itu datang kepada Yesus dan memohon dengan sangat pertolongan-NYA (Luk 7:1-5). Mengapa? Karena perwira itu telah menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada orang-orang yang lemah, dia membantu membangun sinagoga/rumah ibadat mereka  yang memungkinkan mereka untuk menghidupi iman mereka secara martabat dan penuh kedamaian saat berada di bawah kekuasaan militer. Kebaikan dan belas kasihannya membuatnya disayangi oleh para tua-tua Yahudi itu. Seringkali tindakan kita di masa lalu muncul kembali, entah itu bisa menghantui kita atau membantu kita. Perbuatan baik dapat menyebabkan belas kasihan dan kebaikan itu kembali kepada kita saat kita sangat membutuhkannya. Tindakan kita yang tidak beramal atau tidak baik mengarahkan kita pada kebalikannya. Bagaimanakah kita menjalani hari-hari kehidupan kita di masa lalu hingga hari ini?

Mengakui Kristus sebagai Raja: Ketika Yesus tidak jauh lagi dari rumahnya, perwira itu menyuruh beberapa sahabatnya mengatakan kepada Yesus: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak pantas menerima Tuan dalam rumahku. Sebab itu, aku juga merasa tidak pantas datang sendiri mendapatkan Tuan. Tetapi katakanlah sepatah kata saja, maka hambaku akan sembuh” (ay. 6-7). Kata-kata perwira itu menunjukkan bahwa dia mengenali persis siapa Yesus itu: Raja surga dan bumi. Dia tahu bahwa dia tidak layak untuk menjamu Yesus di rumahnya (sungguh, siapa di antara kita yang layak?). Tampak bahwa perwira ini begitu terbuka dan jujur, dia tidak bertele-tele dan tidak takut untuk secara terbuka mengakui kepercayaannya pada kuasa penyembuhan Yesus. Dan oleh kepercayaannya itu, Ia minta agar Yesus tidak perlu datang ke rumahnya untuk menyembuhkan hamba itu. Dia hanya minta agar Yesus mengatakan sepatah kata saja, maka hambanya akan sembuh. Perwira itu percaya bahwa Yesus adalah raja yang baik dan murah hati yang akan menyembuhkan setiap orang yang meminta pertolongan-NYA, tidak peduli betapa tidak layaknya mereka. Apakah kita juga menunjukkan kepercayaan yang sama kepada Yesus?

Kurangnya Iman Orang Beriman: Terkagum-kagum atas permintaan perwira yang rendah hati dan penuh kepercayaan diri itu, Yesus berkata bahwa IA belum pernah melihat iman sebesar ini di Israel—umat pilihan Allah! Seringkali begitu mudahnya mengklaim bahwa kita memiliki iman ketika kita menghadiri Ekaristi dan mengucapkan doa-doa kita. Kita juga dengan mudah sering erat berpegang teguh pada ilusi bahwa kita mengendalikan hidup kita. Betapa mudahnya beralih ke “orang-orang yang kita anggap punya kemampuan untuk menyembuhkan”, kita beralih ke nasehat-nasihat online, atau petunjuk-petunjuk keberuntungan dalam buku-buku sekuler yang kita baca ketika kita menghadapi masalah, dan bukannya dengan rendah hati dan penuh kepercayaan mendekati penulis seluruh hidup kita, Yesus Kristus, dengan masalah kita.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dalam hidupku dan penulis sejarah hidup manusia. Ajari aku untuk selalu mengarahkan pandangan kepada-Mu dengan kerendahan hati dan iman, percaya pada kebaikan dan pemeliharaan-Mu. Bantu aku untuk selalu mengingat bahwa cinta-Mu untukku tetap dan selalu hadir dalam situasi apapun kehidupan saya: suka- duka, sehat dan sakit, sulit dan penuh penderitaan.  Limpahkanlah rahmatmu, untuk selalu membimbingku dalam segala perencaan dan pekerjaanku sepanjang hari ini. Amin

Aksi Konkret: Seperti Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius yang kita dengan dalam Bacaan Pertama hari ini, kita pun dapat melakukan aksi dengan berdoa, agar semua orang diselamatkan dan “mengenal kebenaran.” Kebenaran bahwa Yesus Kristus membebaskan kita dan mengilhami kita, memberi kita kedamaian dan memperdalam rasa hormat kita terhadap kehidupan. Dan DIA adalah satu-satunya perantara antara Allah dan diri kita sendiri. (*)

Renungan oleh:
RD Yustin


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •