Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Selasa, 14 September 2021
Bacaan Injil : Yoh 3:13-17

Bersamaan dengan “Pesta Salib Suci” yang kita rayakan hari ini, kita ingin renungkan kembali arti salib Kristus untuk kita. Melalui salib, Kristus telah membayar lunas hutang dosa yang kita lakukan. Dia menebus; menggantikan hukuman yang seharusnya kita terima karena dosa kita. Santo Ambrosius dari Hipolitus dalam katekesenya memuji mereka yang “terikat” atau setia memikul salib. Sebab kendati menghadapi keganasan dan gelombang rayuan dunia, toh mereka akhirnya sampai ke pelabuhan abadi. Gereja adalah kapal dan salib Kristuslah Tiang Agung-nya. Terikat pada salib menjad isyarat mutlak untuk mencapai keselamatan. “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku” (Mat 16:24). Salib adalah lambang keselamatan kekal yang mendatangkan kegembiraan sejati kepada dunia.

Dalam pandangan publik pada zaman Romawi, salib memang mengerikan, memalukan, bahkan menjijikkan. Salib sebagai tempat hukuman mati yang paling mengerikan. Karena itu, kita bisa mengerti mengapa ada orang yang mengatakan bahwa “di salib ada jin”. Pernyatan ini memang tidak tepat, sebuah kesimpulan terburu-buru dan menyesatkan. Hanya iblis dan kawan-kawamnya yang takut dengan salib. Justru kita meyakini bahwa dengan sengsara dan wafat Yesus disalib kita memperoleh cahaya dan arti baru dalam hidup kita. Salib mengandung simbolisme yang patut dipahami dan dihayati oleh setiap umat Kristiani. Sejak abad kedua para antropolog gencar memperkenalkan salib bukan sebagai alat hukuman yang mematikan, namun sebagai alat yang “menyembuhkan” alam raya dan “menyelamatkan” manusia.

Dalam Injil pagi ini, Yesus menerangkan bahwa kita harus “Dilahirkan kembali” ini bukanlah berarti secara fisik, melainkan tentang memasuki kehidupan baru sebagai hasil karya ajaib Roh Kudus. Memasuki kehidupan kekal ini dimungkinkan oleh pengorbanan Kristus di kayu salib. Ia menanggung hukuman untuk menggantikan manusia yang berdosa. Akan tetapi, hal ini sulit dipahami Nikodemus. Maka Tuhan Yesus mengambil suatu kisah dalam Perjanjian Lama, untuk menolong Nikodemus memahami hal tersebut.

Nikodemus adalah seorang Farisi yang tentu sangat akrab dengan Perjanjian Lama yang di dalamnya termasuk juga kitab-kitab Taurat. Kisah tentang ular di padang gurun (Bil. 21:4-9) sudah tidak asing baginya karena dia mempelajari Kitab suci. Yesus mengingatkan Nikodemus dengan mengibaratkan kematian-Nya di kayu salib seperti kisah digantungnya ular tembaga di sebuah tiang. Setiap orang yang memandang Salib akan selamat. Peristiwa ular tembaga itu terjadi karena orang-orang Israel memberontak melawan Allah. Sebagai hukuman, Allah mengirimkan ular-ular tedung untuk memagut mereka. Ketika Musa berdoa kepada Allah, Allah memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga dan menggantungnya. Siapa saja yang dipagut ular harus memandang ular tembaga itu, bila ingin disembuhkan. Begitu pulalah kematian Yesus di kayu salib (band.Yoh.12:32-34). Manusia yang telah berdosa karena melawan Allah harus menerima hukuman, namun Kristus rela menanggung semua dosa manusia dan mereguk murka Allah. Dengan karya-Nya, Ia menebus manusia dan membebaskan manusia dari hukuman.

Bagi kita, salib tidak hanya simbol dengan dua kayu yang melintang vertical dan horizontal dan ada Yesus yang tergantung di sana tetapi lebih dari itu, Salib adalah kekuatan Allah yang mencintai umatNya, Salib adalah ungkapan Allah yang mau solider dengan manusia. Dengan salib Allah mengangkat derita menjadi kemuliaan –  Allah dekat dengan kita yang berjuang dalam penderitaan hidup. Di Salib kita temukan bahwa setiap perjuangan kita tidaklah sia-sia tetapi akan mendapat ganjaran yang setimpal. (*)

Renungan oleh:
RD Stanislaus Bani


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •